Babi Guling, Dari Tradisi Menjadi Konsumsi

Babi guling adalah nama makanan masakan khas Bali yang dibuat dari karkas anak babi betina atau jantan utuh (tanpa direcah) yang bagian perutnya (setelah dibersihkan) diisi dengan sayuran berikut bumbu rempah, kemudian dimatangkan dengan cara dipanggang sambil diputar-putar (diguling-gulingkan). Oleh sebab itu, babi guling juga disebut sebagai babi putar atau be guling dalam Bahasa bali. Walaupun be guling sebenarnya dapat dibuat dari jenis daging lainnya seperti itik dan ayam.

Untuk menandai babi guling sudah matang atau belum, dapat dilihat dari perubahan warna kulitnya  menjadi kecokelatan dengan tekstur yang renyah.

Sebelum menjadi hidangan yang umum dijual di kedai, warung ataupun restoran yang ada di daerah Bali, babi guling adalah hidangan khusus yang hanya disajikan pada upacara adat ataupun  upacara keagamaan.

 

 

SEJARAH BABI GULING

Hingga saat ini, sejarah babi guling belum diketahui secara pasti. Namun sebagai tradisi, seperti dikutip dari baliprov.go.id yang mengambil sumber kesusastraan Hindu yaitu Lontar Sundarigama, babi guling pada awalnya adalah salah satu sarana upakara yang dipersembahan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagai contoh adalah olahan Babi Guling di desa Beng kabupaten Gianyar, mengikuti  perkembangan jaman fungsinya bertambah sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan pokok (konsumsi).

Cara menyantap babi guling untuk upacara dengan sekedar konsumsi juga berbeda. Khusus untuk upacara, menyantap babi guling  harus mengikuti tradisi yang berlaku yaitu bagian-bagian tubuh seperti : sedikit  Kaki, hidung, telinga harus dipersembahkan terlebih dahulu kehadapan Ida Sang hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa agar mendapatkan perlindungan dari berbagai musibah.

Sedangkan  babi guling sebagai konsumsi, berdasarkan kutipan dari id.wikipedia.org dan detik.com, kuliner babi guling awalnya berawal dari sekumpulan orang orang kei atau suku kei yang mendiami Kepulauan Kei di Provinsi Maluku. Mereka ini dianggap paling piawai  mengolah daging babi. Salah satunya adalah babi guling.

Lantas, apa hubungan orang Kei dengan Bali, hingga olahan babi gulingnya dianggap sebagai kuliner khas bali?

Beberapa budaya dari masyarakat di Maluku, amat mirip dengan budaya masyarakat Bali.Sebagai contoh adalah  Baju Cele, baju adat Maluku Tenggara justru amat mirip dengan pakaian adat Bali. Belum lagi, perahu dan rumah adatnya. Termasuk makanan khas Kei yaitu Enbal yang mana setelah dilakukan penelitian ternyata punya hubungan dengan Bali juga. ‘En’ artinya umbi, sedangkan ‘bal’ berasal dari kata Bali. Jadi, enbal dapat diartikan sebagai ‘umbi yang dibawa dari Bali’.

Berdasarkan catatan, memang ada beberapa unsur budaya Bali yang masuk ke Kei. Tidak mengherankan karena nenek moyang orang Kei yaitu Nen Dit Sakmas. adalah keturunan Bali. Mungkin itu sebabnya olahan daging babi orang Kei yang terkenal karena kelezatannya itu, nantinya populer sebagai kuliner babi guling khas Bali.

 

 

ANEKA BABI GULING DI INDONESIA

Sebagai negara mayoritas muslim, kuliner bagi guling jarang ditemukan secara umum di Indonesia, kecuali di willayah-wilayah  mayoritas non-muslim, seperti Hindu Bali dan tanah Batak Kristen di Sumatera Utara, orang Minahasa di Sulawesi Utara, Toraja di Sulawesi Selatan, Papua, orang Dayak di Kalimantan, orang-orang di NTT dan juga di antara orang Tionghoa Indonesia.

Di Bali, babi guling atau lebih dikenal dengan be guling, biasanya disajikan dengan nasi dengan lawar. Yang disebut lawar adalah olahan khas Bali yang berisi sayur, daging cincang dan diberi bumbu seperti kunyit, kemiri, bawang merah, bawang putih, dan kelapa. Kadang juga ditambahkan darah yang berasal dari jenis daging,yang digunakan, dengan tujuan  untuk menambah kelezatannya.

Dalam tradisi orang Batak, babi guling merupakan prasyarat dalam penawaran pernikahan untuk keluarga pengantin.

Di Papua, babi guling diolah bersamaan dengan  ubi jalar didalam tanah yang sudah dilubangi, kemudian diberi batu yang dipanaskan dan ditutup dengan  dengan cara  dipanggang di batu yang dipanaskan kemudian  ditutupi dengan dedaunan. Metode memasak ini disebut bakar batu (pembakaran batu) yang dilakukan  pada saat-saat  tertentu. Sampai saat ini, bakar batu menjadi salah satu kegiatan budaya dan sosial yang penting antara orang-orang Papua.

sedangkan Babi guling di Bogor, meski tidak banyak penjualnya, tetap  dapat dijumpai berberapa kedai. Seperti di Warung Popoki by Sherla, yang beralamat di Jl. Pajajaran Indah no.8, Bogor.

Jika bingung mencari penjual babi guling terdekat dengan lokasi anda di Bogor, Google Maps siap membantu, silahkan KLIK DISINI