idarzh-CNnlenms

Renyah Rempeyek Yang Membuat Mulut Tak Berhenti Mengunyah

Ibu-ibu pasti sudah tak asing dengan makanan tradisional yang satu ini, bukan? Terbuat dari adonan tepung beras yang digoreng kering, sehingga rasanya menjadi sangat renyah dan membuat mulut tak berhenti mengunyah. Ditambah lagi ada banyak variasi rempeyek yang membuatnya semakin dicintai masyarakat luas.

Tidak hanya diproduksi untuk konsumsi pribadi saja, namun juga banyak masyarakat yang melihatnya sebagai peluang bisnis yang tak bisa diabaikan begitu saja. Dengan memanfaatkan insting bisnis, maka terciptalah kreasi rempeyek aneka varian yang diedarkan di pasaran dan mendapatkan tanggapan yang sangat baik di masyarakat.

 

Macam-Macam Jenis Rempeyek

Ada banyak makanan tradisional yang menjadi lebih lezat dengan kehadiran rempeyek, misalnya saja pecel dan sayur bumbu kuning. Saat makan menjadi lebih ramai dan lezat karena renyahnya rempeyek. Pada awalnya rempeyek hanya dibuat dengan menggunakan kacang tanah yang diiris tipis, namun seiring waktu makin bervariasi.

Adapun macam-macam jenisnya adalah:

  • Rempeyek kacang tanah
  • Rempeyek ikan teri
  • Rempeyek kacang ijo
  • Rempeyek tempe, dan masih banyak lagi

 

Yang membuat rempeyek menjadi lebih khas dan wangi, selain bumbu rempah seperti bawang putih, merica dan ketumbar, irisan daun jeruk juga tak jarang dijadikan campuran adonan rempeyek supaya rasanya menjadi jauh lebih beraroma.

Untuk yang ingin menjalani bisnis kuliner tradisional, rempeyek biasa dijual dalam kemasan eceran, misal satu bungkus seribu atau dua ribu Rupiah. Namun untuk ukuran besar bisa dijual dengan kemasan setengah kilo atau satu kilo.

 

Sejarah Rempeyek Dan Hubungannya Dengan Kerupuk

Selain sambal yang pedas, masyarakat Indonesia tidak bisa makan tanpa adanya kerupuk dan rempeyek adalah salah satu jenis kerupuk yang khas dari Indonesia. Namun jika melihat definisi atau arti kata kerupuk berdasarkan KBBI Online, dikatakan bahwa kerupuk adalah makanan yang dibuat dari adonan tepung yang sudah dicampur dengan lumatan ikan atau udang. Kemudian dikukus dan disayat tipis untuk kemudian dijemur sampai kering supaya mudah saat digorengnya nanti.

Sementara itu, rempeyek terbuat dari adonan tepung beras dan tepung tapioka dengan perbandingan 5:1, jadi 5 bagian tepung beras dicampur menggunakan 1 bagian tepung tapioka dan diberi santan serta bumbu halus dari bawang putih, ketumbar dan kemiri. Adonannya dibuat agak encer sehingga bisa dicetak dengan tipis-tipis di pinggiran wajan dan digoreng sampai kering. Hasilnya adalah rempeyek yang kriuk dan renyah. Kerenyahannya sama dengan kerupuk walapun jenisnya berbeda.

Rempeyek sudah terkenal sejak zaman dahulu kala, walaupun belum jelas sejarahnya karena belum ditemukan bukti sejarah apapun yang menunjukkan bahwa rempeyek adalah makanan tradisional yang sudah ada sejak zaman nenek moyang.

Beda halnya dengan kerupuk, sejak abad ke 9 sudah diyakini populer di Tanah Jawa. Bukan tanpa alasan tersendiri, melainkan ada dalam Prasasti Batu Pura yang membuatnya lebih otentik. Di dalam prasasti tersebut disebutkan mengenai kerupuk rambak.

Ada yang belum tahu mengenai kerupuk rambak? Ini adalah kerupuk yang terbuat dari kulit sapi atau kulit kerbau, dimana lapisan luarnya sudah dibersihkan kemudian direbus. Setelah empuk lalu diiris dan dijemur di bawah sinar matahari. Setelah kering disangrai atau digoreng dan rasanya gurih, serta renyah sekali. Konon, kerupuk rambak dari kulit sapi dan kulit kerbau ini terinspirasi dari kerupuk kulit babi yang dibawa oleh masyarakat Tionghoa saat berdagang di Indonesia.

Butuh Lokasi Untuk Membuka Usaha Kuliner?

  • Dijual Cepat, Sebuah Tempat Usaha Strategis di Banyumanik Semarang
    Banyumanik adalah nama sebuah kecamatan di Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan Banyumanik Semarang terletak di daerah yang sering disebut sebagai kota atas Semarang. Wilayah Kecamatan Banyumanik berada di ketinggian rata-rata 300 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara rata-rata 20-22 derajat Celcius Banyumanik merupakan daerah ekonomi baru…
    Read more...