Loading...

KETUPAT Bukan Makanan Biasa, Ada Makna Dan Sejarah Dibalik Namanya

Siapa tak kenal dengan makanan khas Indonesia yang disebut ketupat? Ketupat adalah makanan pengganti nasi yang terbuat dari anyaman kelapa muda (janur) berbentuk segi empat. Makanan tradisional yang terbuat dari bahan dasar beras ini selalu disajikan dengan rendang atau opor ayam di hari lebaran. Bisa dibilang, tanpa ketupat, lebaran terasa kurang afdol. Ibarat sayur tanpa garam. Kendati ketupat sangat populer di tengah masyarakat, faktanya masih sedikit orang yang mengetahui sejarah ketupat.

Sebagian besar orang hanya mengetahui bahwa ketupat sudah ada sejak ratusan tahun silam. Lantas, benarkah demikian? Bagaimana kisah penemuan ketupat? Apa makna di balik ketupat? Penasaran? Yuk, simak uraian berikut ini!

 

 

Sejarah Ketupat

Konon, makanan  yang disebut ketupat ini pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat Jawa oleh Raden Mas Said atau yang dikenal dengan sebutan Sultan Kalijaga. Tokoh Walisongo ini membudayakan sebuah tradisi setelah lebaran, yakni menganyam ketupat menggunakan daun kelapa muda kemudian diisi dengan beras. Tradisi lebaran yang sering disebut sebagai “hari raya kecil” ini berlangsung pada hari ke tujuh bulan syawal, tepatnya setelah melaksanakan puasa sunah syawal selama enam hari.

Tradisi yang mulanya hanya dilestarikan di tanah Jawa kemudian menyebar hingga ke seluruh pelosok Nusantara. Dalam bukunya “Malay Annal” H. J. de Graaf menyebutkan bahwa penggunaan ketupat sebagai simbol Islam tidak lepas dari motif politis Raden Patah, pendiri Kerajaan Demak. Sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa, Raden Patah ingin membangun kekuatan politik dan penyiaran agama Islam dengan dukungan Walisongo.

Di sisi lain, Raden Patah ingin menunjukkan identitas budaya pesisir yang ditumbuhi pohon kelapa pada dunia. Warna kuning pada janur dipilih sebagai simbol yang mencerminkan pesisir sekaligus untuk membedakan warna merah di Asia Timur dan hijau di Timur Tengah. Simbol tersebut bukan sekadar sebagai pembeda, melainkan sebagai upaya transisi nilai budaya di tanah Jawa.

Kala itu, Raden Patah yang tengah membangun kerajaannya harus mencari cara untuk mendapatkan dukungan dan simpati dari rakyat. Ketupat dan janur dipilih sebagai simbol karena sudah dikenal oleh masyarakat. Maklum saja, baik ketupat maupun janur biasa digunakan dalam berbagai ritual adat di Nusantara. Sebenarnya, gagasan tersebut tak lepas dari peran Sunan Kalijaga.

Bukan hal mudah untuk mengenalkan agama baru pada masyarakat, terutama ketika menyebarkan Islam ke daerah pedalaman. Sebagai tokoh yang aktif menggaungkan Islamisasi di Jawa, Sunan Kalijaga berhasil menemukan cara pendekatan sempurna untuk menyebarkan Islam pada masyarakat, yakni melalui budaya. Sunan Kalijaga menyadari bahwa melakukan pendekatan melalui budaya dapat mempersingkat jarak antara dirinya dengan masyarakat sekitar.

Sunan Kalijaga berhasil mengubah imej kuliner Indonesia yang identik dengan ritual adat Hindu-Buddha ini menjadi bercorak Islam. Hal ini sekaligus menghilangkan kesan mistis yang melekat kuat pada ketupat. Jauh sebelum kedatangan Islam di tanah Jawa, ketupat sudah dikenal luas oleh masyarakat. Di pulau Bali, ketupat yang disebut sebagai tipat sering digunakan sebagai persembahan atau pelengkap sesaji dalam upacara adat.

Ketupat merupakan simbol yang melambangkan ritual sembahyangan. Simbol ini memiliki makna filosofis yang dalam untuk jagat raya. Lebaran ketupat sendiri berasal dari tradisi pemujaan Dewi Sri. Dalam masyarakat Hindu, Dewi Sri dikenal sebagai dewi pertanian dan kesuburan. Dewi Sri merupakan dewi tertinggi yang dimuliakan sejak masa kerajaan Hindu kuno.

Namun, sejak Islam mulai menyebar dan proses desakralisasi terjadi, Dewi Sri tak lagi dipuja. Dewi Sri hanya dijadikan sebagai simbol kesuburan dalam bentuk ketupat yang melambangkan rasa syukur pada Tuhan. Kendati demikian, Dewi Sri tetap dihormati oleh sebagian besar masyarakat Jawa, Bali, dan Sunda. Bahkan, sejumlah keraton di Indonesia, seperti Keraton Yogyakarta, Kesultanan Cirebon, dan Kasunanan Surakarta tetap melestarikan tradisi tersebut.

Sebagai contoh, upacara Sekaten di Jawa atau disebut Grebeg Maulud diselenggarakan bersamaan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad. Dalam upacara Sekaten, jenis kuliner Indonesia ini kerap dijadikan sebagai sesaji, persis seperti dalam upacara adat di Bali. Selain itu, masyarakat Jawa pun percaya bahwa menggantung ketupat tepat di atas pintu masuk rumah dapat mendatangkan keselamatan dan menolak bala.

 

 

Jenis-jenis Ketupat di Berbagai Daerah

Di masa kini, ketupat tidak hanya simbol tradisi yang hanya ditemukan saat lebaran. Faktanya, ketupat dapat ditemukan di hari-hari biasa. Bahkan, di beberapa daerah, ketupat dijadikan sebagai menu masakan yang menggoda selera. Adapun jenis-jenis kupat yang dapat Anda temukan di berbagai daerah di Indonesia, antara lain sebagai berikut:

Ketupat Katan Kapau; Nama ketupat ini diambil dari kata “Katan” yang artinya ketan dan “Kapau” yang merujuk pada daerah Kapau, Sumatera Barat. Makanan ini terbuat dari ketan yang direbus menggunakan santan yang telah dicampur bumbu. Biasanya, ketupat katan Kapau disajikan dengan rendang dan gulai itik cabai hijau.

Ketupat Sipulut; Selain ketupat katan Kapau, Sumatera Barat pun memiliki olahan ketupat lainnya, yakni ketupat pulut santan. Sedikit berbeda dari ketupat pada umumnya, ketupat ini memiliki isian dan di bagian luar dilumuri santan kental. Makanan tradisional ini biasanya disajikan dengan rendang atau tapai ketan hitam.

Ketupat Bareh; Ketupat bareh merupakan makanan khas Sumatera Barat. Makanan ini juga dapat ditemukan di pesisir barat Sumatera Utara, utamanya di daerah Sibolga. Ketupat bareh terbuat dari beras yang direbus dengan santan. Biasanya, ketupat bareh disajikan dengan asam padeh ikan dan sambal kelapa.

Ketupat Pulut; Ketupat pulut merupakan makanan khas yang berasal dari Medan, Sumatera Utara. Dalam bahasa Medan, “Pulut” artinya ketan. Ketupat pulut dibuat dari ketan, bentuknya segitiga dan dibungkus menggunakan daun palas atau palem. Biasanya, ketupat pulut disajikan dengan rendang atau sirup gula. Lantaran kelezatannya, ketupat ini tidak hanya terkenal di Indonesia, melainkan juga populer di kawasan Malaysia.

Ketupat Glabed; Ketupat glabed merupakan makanan khas yang berasal dari Tegal, Jawa Tengah. Biasanya, makanan ini disajikan dengan kuah kuning kental yang dilengkapi dengan hidangan pelengkap, seperti kerupuk, tempe goreng, sate ayam, sate kerang, dan sambal.

Ketupat Babanci; Ketupat babanci merupakan makanan khas Betawi yang disajikan dengan kuah santan. Kuah sendiri merupakan campuran santan dengan aneka rempah sehingga menimbulkan aroma yang khas. Biasanya, ketupat babanci disajikan dengan daging sapi sebagai pelengkap.

Ketupat Kandangan; Ketupat Kandangan merupakan makanan khas Kalimantan Selatan. Ketupat Kandangan biasanya disajikan dengan ikan gabus atau ikan haruan goreng atau balado dan kuah kekuningan, mirip dengan kuah opor. Untuk menyantap hidangan ini, Anda tidak diperkenankan menggunakan sendok, melainkan menggunakan tangan.

 

 

Arti Kata Ketupat Dalam Khazanah Kuliner Indonesia

Bagi masyarakat Jawa, tradisi lebaran ketupat mengandung makna yang mendalam. Ketupat atau Kupat merupakan singkatan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat. Dalam bahasa Jawa, “ngaku lepat” berarti mengakui kesalahan. Ngaku lepat tergambar jelas pada tradisi sungkeman. Pada tradisi ini, orang-orang akan mengakui kesalahannya. Bagi masyarakat Jawa, sungkeman tidak hanya ritual wajib saat lebaran untuk memohon ampunan, melainkan lebih daripada itu.

Sungkeman mengajarkan pentingnya menghargai dan menghormati orang yang lebih tua. Sungkeman menggambarkan sikap rendah hati dan melambangkan ketulusan. Sungkeman pun mengajarkan keikhlasan untuk memaafkan orang lain. Sementara, “laku papat” memiliki arti empat tindakan, yaitu Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan.

 

 

Arti Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan

Adapun arti dari empat tindakan tersebut, antara lain sebagai berikut.

  • Lebaran; Lebaran berarti telah selesai, menandakan berakhirnya bulan Ramadan.
  • Luberan; Luberan memiliki arti melimpah, yang dimaksudkan untuk memberi sedekah kepada kaum miskin dengan menunaikan zakat fitrah.
  • Leburan; Leburan artinya sudah habis, melebur, waktunya memaafkan. Artinya, segala dosa dan kesalahan akan melebur, hilang, setelah memaafkan satu sama lain. Leburan merupakan inti dari kembali ke fitrah.
  • Laburan; Laburan diambil dari kata labur yang artinya menyapu. Kata ini pun identik dengan proses memutihkan dinding atau menjernihkan air. Hal ini mengingatkan agar manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batin.

 

 

Filosofi Ketupat

Ketupat bukan sekadar makanan yang disajikan untuk menjamu para tamu di hari raya Idulfitri maupun Iduladha. Ketupat juga bukan hanya simbol atau tanda genapnya enam hari berpuasa sunah di bulan Syawal.

Sebagian besar masyarakat Jawa memaknai kerumitan dalam membuat anyaman ketupat dari janur sebagai kesalahan manusia. Sementara warna putih ketupat yang dibelah mencerminkan kebersihan hati dan jiwa setelah bermaaf-maafan. Butiran beras yang dibungkus menggunakan janur merupakan simbol kemakmuran dan kebersamaan.

Penggunaan janur sebagai wadah ketupat memiliki arti tersembunyi. Dalam bahasa Arab, janur berasal dari kata “jaa a al-nur” yang memiliki makna telah datang cahaya. Sementara masyarakat Jawa mengartikan kata janur dengan "sejatine nur" yang bermakna cahaya kemenangan. Dalam arti luas, manusia mendapatkan pencerahan selama bulan Ramadan dan kemenangan setelahnya. Singkatnya, ketupat menggambarkan tentang kemuliaan dan kebijaksaan manusia.

 

 

Filosofi Kupat dan Lepet

Kupat; Kupat harus dibungkus janur. Sesuai dengan arti janur yang berasal dari bahasa Arab, telah datang cahaya. Bentuk ketupat segi empat mengibaratkan hati manusia. Ketika seseorang telah mengakui kesalahannya, hatinya ibarat kupat yang dibelah. Isinya putih bersih, yang berarti hatinya bersih dari rasa iri dan dengki karena hatinya telah dibungkus jaa a al-nur, cahaya.

Lepet; Lepet, silep kang rapet. Mangga dipun silep ingkang rapet memiliki makna ajakan untuk mengubur atau menutup rapat. Artinya, setelah mengakui “kalepatan” kesalahan dan meminta ampunan, maka kesalahan yang sudah dimaafkan telah tertutup rapat. Menutup memiliki makna ajakan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Lepet bertujuan agar persaudaraan semakin kuat dan erat layaknya ketan dalam lepet.

 

 

Makna Lain Ketupat

  • Ketupat mencerminkan beragam kesalahan yang diperbuat manusia. Hal ini tampak dari rumitnya anyaman ketupat.
  • Ketupat mencerminkan kesucian hati setelah memohon pengampunan atas segala kesalahan yang diperbuat.
  • Ketupat mencerminkan kesempurnaan dan kemenangan umat Islam. Setelah berpuasa selama sebulan, umat Islam merayakan hari kemenangan, Idulfitri.
  • Ketupat mencerminkan permintaan maaf. Hal ini tercermin dari cara menghidangkan ketupat, yakni menggunakan lauk dan kuah santan. Dalam bahasa Jawa, ketupat santan disebut “kupat santen” yang berarti “kulo lepat, nyuwun ngapunten”. Dalam bahasa Indonesia berarti, saya salah, mohon maaf.
  • Ketupat mencerminkan ketulusan. Hal ini tercermin dari pemberian zakat fitrah kepada fakir miskin.

 

 

Budaya Ketupat di Berbagai Negara

Kendati tradisi lebaran ketupat berakar di Tanah Jawa, penyebaran Islam secara luas membawa dampak positif. Tradisi ini tidak hanya dilaksanakan di Indonesia, melainkan juga di sejumlah negara, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Di Filipina, terdapat makanan yang mirip dengan ketupat, tetapi memiliki pola anyaman yang berbeda, yakni bugnoy.

Sementara di Malaysia, ketupat yang dihidangkan memiliki kemiripan dengan ketupat asal Medan, Sumatera Utara, yakni ketupat pulut. Penyajiannya pun tak jauh berbeda. Ketupat yang terbuat dari ketan berbentuk segitiga ini dihidangkan dengan rendang, gulai, atau serundeng.

Di khazanah kuliner Indonesia, ketupat tidak hanya disajikan dengan opor ayam dan rendang, melainkan juga sejumlah makanan lain, seperti sate ayam atau kambing, sambal ati ampela, kari, soto, dan laksa ayam.

Secara umum, ada dua bentuk utama ketupat, yakni jajaran genjang bersudut enam dan kepal bersudut tujuh. Kedua bentuk tersebut memiliki pola anyaman yang berbeda. Dalam proses pembuatan ketupat diperlukan janur berkualitas. Janur tidak boleh terlalu muda atau tua. Panjang dan lebar janur pun harus sesuai standar. Tujuannya, agar bentuk ketupat cantik dan dapat matang sempurna ketika dimasak.

 

 

Tradisi Lebaran Ketupat di Sejumlah Daerah di Indonesia

Madura; Tradisi lebaran ketupat di Madura disebut Terater. Biasanya, tradisi ini dilaksanakan setiap tanggal 7 di bulan Syawal, tepat setelah umat muslim berpuasa sunah selama enam hari. Sebelum menyantap ketupat, warga akan lebih dulu menyerahkan ketupat kepada imam masjid, dibawa ke masjid atau musala untuk dikumpulkan. Setelah menggelar doa, warga akan makan bersama-sama. Selain memperat tali persaudaaan, tradisi ini dilakukan sebagai tanda syukur atas karunia yang diberi oleh Allah Swt.

Kudus; Di Kudus, lebaran ketupat dirayakan dengan menggelar prosesi Kirab Gunungan Seribu Ketupat Kanjeng Sunan Muria. Sesuai dengan namanya, dalam prosesi ini warga akan mengarak gunungan yang terbuat dari susunan seribu ketupat dan ratusan lepet menuju Masjid Sunan Muria. Acara ini biasanya digelar bersamaan dengan ziarah ke Makam Sunan Muria. Kegiatan akan dilanjutkan dengan minum air dan mencuci kaki dan tangan menggunakan air yang berasala dari gentong peninggalan Sunan Muria. Tradisi ini merupakan tanda syukur kepada Allah Swt dan penghormatan kepada Sunan Muria yang telah menyebarkan Islam di Bumi Pertiwi.

Manado; Lebaran ketupat di Manado digelar dengan saling mengunjungi dan memaafkan. Awalnya, tradisi ini dibawa oleh warga Jawa, keturunan Imam Bonjol di Tondano dan masih terus dilestarikan hingga kini.

Lombok; Di Lombok, lebaran ketupat dinamakan lebaran topat. Lebaran topat dimeriahkan dengan melakukan arak-arakan cidomo hias yang mengangkut dulang berisi ketupat menuju pusat perayaan di makam Loang Baloq atau dinamakan tradisi nyangkar.

Trenggalek; Setiap tahun, masyarakat Trenggalek akan melakukan pawai gebyar lebaran ketupat di hari ketujuh bulan Syawal. Pawai ini dimeriahkan dengan sederet acara, seperti kesenian tari daerah, parade busana, marching band dari warga Kelutan, dan pawai taaruf. Dalam acara ini, setiap pengunjung dapat menikmati ketupat sayur gratis yang disediakan oleh warga sekitar.

Magelang; Lebaran ketupat di Magelang diperingati dengan menerbangkan ratusan balon udara. Konon, tradisi ini telah berlangsung sejak tahun 1980-an.

 

 

Demikianlah informasi mengenai sejarah ketupat, kuliner Indonesia yang perlu untuk Anda ketahui, lengkap dengan arti dan maknanya. Ayo, jaga dan lestarikan tradisi Nusantara dengan membagikan informasi ini!

Sensasi Lembut SATE SUMSUM Pak Oo, Makanan Bogor Ini Memang Top!

Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB, ketika aroma khas yang gurih dan sedap menyeruak disekitar jalan Suryakencana Bogor. Rupanya berasal dari sebuah kedai, yang sedang membakar makanan jensi sate yang menggunakan bahan baku dari daging dan jeroan sapi. Kedai Sate Sapi Pak Oo, demikian orang mengenalnya. Sate sumsum tulang sapi dan sate ginjal adalah menu favorit di kedai ini.

Sambal dan Jeruk Limau Pada Makanan Ini, Adalah Rahasia Kesegaran SOTO MIE BOGOR

Soto! Ya, kuliner berkuah satu ini memang khas Indonesia. Hampir setiap wilayah di negeri ini memiliki olahan soto. Demikian pula dengan Bogor yang memiliki olahan soto unik bernama Soto Mie Bogor. Makanan asli Kota Hujan ini merupakan menu yang bukan saja mengenyangkan, melainkan juga menyehatkan.

TOGE GORENG Mak Epon, Jawara Makanan Tradisional Khas Bogor

Kalau disuruh menuliskan satu-satu apa saja kuliner tradisional Bogor yang wajib dicoba, satu halaman kertas mungkin tidak cukup untuk menampungnya. Dari ujung ke ujung, pasti ada saja kedai makanan khas Bogor yang melambai-lambai minta disinggahi. Salah satu kedai makanan khas Bogor yang dapat Anda masukkan ke dalam daftar wisata kuliner Bogor adalah Toge Goreng Mak Epon.