Loading...

Sate Susu, MAKANAN Halal di Bali Yang Banyak Dicari

Suasana syahdu Ramadhan tak hanya selalu berkisar di tempat yang memiliki mayoritas Muslim saja. Di Bali yang sebagian besar masyarakatnya menganut agama Hindu pun kita masih bisa turut merasakan suasana serupa. Salah satunya adalah di Dusun Wanasari yang terletak di Desa Dauh Puri Kaja, Denpasar Utara. Desa yang juga disebut Kampung Jawa tersebut akan berubah menjadi lokasi perburuan takjil yang sangat ramai jelang bulan tersebut.

Tak jarang hal ini dimanfaatkan sejumlah warga yang tinggal di dalamnya untuk menjadi pedagang makanan halal di Bali dadakan. Berbagai hidangan yang disajikan pun bermacam-macam, dimulai dari lauk pauk, minuman es hingga aneka kue basah. Para penjual takjil ini biasanya akan mulai berjualan di dekat Masjid bersejarah Baiturrahman.

Namun dari semua kuliner takjil yang tersedia, terdapat satu hidangan yang cukup unik dari desa ini, yaitu sate susu sapi. Seperti namanya, daging untuk bahan tersebut memang diambil dari bagian puting sapi tepatnya daerah kantung susu. Siapa sangka daging bagian payudara sapi bisa diolah menjadi suatu sajian yang sangat digandrungi. Tidak seperti daging sapi lainnya yang memiliki tekstur berserat, bagian ini justru terasa kenyal dan lumer di mulut.

Selain itu, bagian sapi yang satu ini diklaim rendah kolesterol. Banyak pelanggan yang mengatakan bahwa aroma  makanan halal di Bali  ini sangat mirip dengan keju. Disebabkan kemunculannya yang hanya ada saat bulan Ramadhan saja, tak heran sate ini begitu laris diburu bahkan oleh warga dari berbagai penjuru. Bagi warga Kampung Jawa sendiri, hidangan yang satu ini seolah wajib tersaji di meja makan mereka saat hendak berbuka puasa.

Harga per tusuknya juga terbilang begitu terjangkau, yakni sekitar Rp 2.500 atau Rp 3.000 pada Ramadhan 2018 lalu. Meskipun kini berbagai macam kuliner mulai bermunculan untuk dijajakan, tetapi popularitas sate ini tak pernah berkurang setiap tahunnya. Makanan ini merupakan salah satu jenis kuliner yang sudah ada sejak lama di Desa Wanasari. Untuk membuatnya bagian susu sapi akan diiris tipis-tipis hingga berbentuk kotak, kemudian ditusuk menggunakan tusukan bambu.

Dikarenakan teksturnya yang sangat lembek, daging bagian susu ini perlu direbus terlebih dahulu agar lebih mengeras dan mudah ditusuk. Berbeda dengan sate yang umumnya menggunakan bumbu kacang dan kecap, makanan halal di Bali ini menggunakan rempah-rempah seperti bawang, kencur, cabai, ketumbar dan kunyit yang dicampur santan dan tepung beras. Apabila Anda penasaran dengan rasanya, Anda bisa mencoba mengunjunginya di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Denpasar Barat.

Desa Wanasari disebut-sebut sebagai tempat tinggal komunitas Muslim terbesar di Pulau Dewata. Menilik dari popularitasnya, tak heran tempat ini kerap dikunjungi para pelancong Muslim untuk berburu makanan halal di Bali terutama saat bulan puasa. Meskipun disebut sebagai Kampung Jawa, nyatanya penduduk yang ada disana sebagian besar berasal dari Pulau Madura. Disebut demikian karena dahulunya para prajurit Jawa dan para pejuang di Bali pernah bersama-sama ikut memberantas para penjajah Belanda di daerah tersebut.

Keberadaan desa Muslim di Bali ini juga menjadi suatu penanda tingginya toleransi di wilayah di Bali. Hal tersebut bahkan bisa dilihat dari sejarah pembangunan Masjid Baiturrahman yang sebagian besar lahannya merupakan limpahan Raja Pamecutan dari bekas Pura Pelinggih. Hal ini membuat kunjungan ke Kampung Jawa tidak hanya berkutat pada makanannya saja, tetapi juga sejumlah potongan sejarah yang mengawali keberadaannya.

"SEUPAN TALES" Wangi, Makanan Ringan Khas Sunda

Bogor memang terkenal dengan talasnya. Saking terkenalnya, selain dijuluki sebagai Kota Hujan, Bogor juga kini semakin dikenal pula dengan Kota Talas. Berbagai olahan camilan berbahan talas pun banyak ditemukan di sini. Mulai dari lapis talas Bogor yang tersohor itu hingga seupan taleus (talas kukus), yang kini termasuk salah satu makanan ringan khas sunda. Para penggemar camilan manis dan menggugah selera tampaknya wajib mencoba seupan tales khas Bogor.

Pamornya Kian Naik, MAKANAN Tradisional Mulai Berani ‘Goda’ Lidah Internasional

Indonesia begitu kaya akan kuliner. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, masing-masing wilayah memiliki menu-menu andalannya. Bisa jadi makanan tradisional antara satu daerah dengan yang lainnya sama atau sekedar mirip, tetapi masing-masing tetaplah memiliki kekhasan sendiri. Perbedaan nama, bahan, cara membuat dan pastinya rasa, justru menjadikannya sebagai khasanah kuliner Nusantara.

Bubur India Masjid Jami Pekojan, Keunikan Kuliner Khas Semarang

Apakah anda tahu tentang bubur yang lain daripada yang lain yang ada di Kota Semarang?. Hidangan tersebut adalah bubur India dari Masjid Jami Pekojan. Masjid ini sendiri terletak di Jalan Petolongan No.1 Purwodinatan, Semarang. Berbeda dari bubur pada umumnya, bubur yang menjadi kuliner khas Semarang ini hanya muncul pada saat bulan puasa dan kerap disajikan sebagai takjil gratis bagi semua orang yang hendak berbuka puasa.