"SATE MARANGGI" DUNIASAPI - Pandu Raya

Sate Maranggi DUNIA SAPI kuliner legendaris khas Cianjur

Kota Bogor identik dengan sebutan kota hujan. Terletak di kaki Gunung Gede dan Gunung Salak membuat kawasan ini memang sering dilanda hujan orografi (hujan yang terjadi di daerah pegunungan).

Angin laut dari Laut Jawa yang membawa banyak uap air masuk ke pedalaman dan naik secara mendadak di wilayah Bogor sehingga uap air langsung terkondensasi dan menjadi hujan. Kondisi ini membuat Bogor hampir setiap hari turun hujan.

Secara tak langsung, hal itu membuat Bogor menjadi lebih dingin. Dingin memang selalu berpasangan dengan rasa lapar. Dan semua pasti sepakat,  makanan yang panas lebih enak untuk disantap karena memberikan sensasi kehangatan. Salah satu pilihannya adalah Sate Maranggi DUNIASAPI.

Menu utama dikedai ini tergolong sederhana, antara lain:

Sate Ayam Maranggi Rp2.500/ tusuk
Sate Sapi Maranggi Campur (daging + lemak) Rp3.500/tusuk
Sate Sapi Maranggi Daging Rp4.500/tusuk

Pilihan menu pelengkap:

Sop Daging Sapi Rp20.000/porsi
Ketan Bakar Serundeng Rp5.000/buah
Nasi Goreng Telur Rp14.000/porsi
Nasi Goreng Ayam Rp17.000/porsi
Nasi Goreng Maranggi Rp20.000/porsi
Oseng Campur Pedas Rp35.000/porsi
Oseng Daging Pedas Rp45.000/porsi

 

Mengapa memilih Sate Maranggi sebagai hidangan utama?

Jenis kuliner ini telah melegenda, kepopuleran kuliner ini tidak perlu diragukan lagi. Tak hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara. Bahkan Sate Maranggi menjadi salah satu dari delapan jajanan kaki lima favorit dunia versi CNN. Ketenaran Sate Maranggi utamanya berasal bumbu sate berupa rendaman aneka rempah dengan citarasa sangat kuat. Proses pengolahan Sate Maranggi memang berbeda dengan jenis sate lainnya. Bahan utama berupa daging harus diolah terlebih dahulu didalam bumbu sate atau disebut marination, sebelum ditusuk menjadi sate dan dimatangkan.

Resep bumbu sate untuk merendamnya terdiri dari kecap, cuka lahang (hasil olahan dari gula aren), air asam, serta bumbu-bumbu yang telah dihaluskan yang terdiri dari bawang putih, bawang merah, ketumbar, serta garam.

Perpaduan aneka bahan dan bumbu inilah yang menciptakan rasa sensasional Sate Maranggi tanpa perlu ditambahkan saus pendamping seperti saus kacang atau bumbu kecap saat menyantapnya. Namun, dibalik kelezatan makanan enak ini, tak banyak orang yang bisa dengan pasti bercerita tentang asal usulnya.

Jika dirunut, ada sejarah panjang dan cukup menarik untuk disimak. Sate Maranggi sesungguhnya adalah kuliner hasil akulturasi dari berbagai unsur budaya, agama, serta geopolitik.

 

Asal Usul Sate Maranggi

Banyak kalangan yang meyakini bahwa Sate Maranggi adalah kuliner asli Indonesia yang berkembang di daerah Jawa Barat. Padahal, menurut penelitian para ahli kuliner,  Sate Maranggi adalah produk dari proses asimilasi dengan budaya China. Salah satu indikasinya adalah penggunaan bumbu sate berupa rempah yang sama persis dengan resep dendeng babi dan dendeng ayam yang terdapat di Hongkong, China, dan Taiwan.

Resep Sate Maranggi dibawa ke Indonesia oleh  para pendatang dataran China yang menetap ke Indonesia khususnya di daerah Jawa Barat, ditengah-tengah masyarakat Sunda. Pada perkembangannya kemudian terjadi asimilasi, yang semakin jelas terjadi setelah masuknya ajaran Islam di Nusantara.  Contohnya adalah penggantian bahan utama yang awalnya menggunakan daging babi,  dengan daging sapi yang halal menurut agama Islam.

Walaupun sejarahnya sudah diyakini, asal muasal nama Sate Maranggi sendiri sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Menurut budayawan Sunda yang juga menjabat sebagai Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, nama tersebut tercetus dari nama seorang penjual sate bernama Mak Ranggi, yang berjualan di daerah Cianting, Purwakarta, puluhan tahun yang lalu.

Kelezatan sate olahan Mak Ranggi yang awalnya diberi nama Sate Panggang ini, selalu menjadi buah bibir masyarakat pada saat itu, sehingga setiap kali membicarakan sate tak pernah lepas dari sebutan Mak Ranggi yang akhirnya dilafalkan sebagai Maranggi.

Namun ada beberapa pendapat lain yang sempat menjadikan pembahasan menarik, karena ada dua gagrak Sate Maranggi yang terus berkembang hingga saat ini, yaitu versi Cianjur dan versi Purwakarta. Belum lagi pendapat jika memang asli Purwakarta, apakah berasal dari daerah Wanayasa atau Plered?.

Adalah Bustomi Sukmawirdja (65), yang lebih dikenal sebagai Mang Udeng,  yang meng-klaim nama Maranggi adalah "trade mark" dari olahan sate miliknya. Nama tersebut konon berawal pada tahun 1962, atau dua tahun setelah pernikahannya dengan Een (55). Ketika itu Mang Udeng mencoba mengadu nasib dengan berjualan sate di sekitar Pasar Plered, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta.

Namun jumlah penjual sate kerbau atau sapi di pasar tersebut sudah cukup banyak. Agar bisa bersaing dengan penjual sate lainnya, Mang Udeng mencoba membuat sesuatu yang lain. Sate olahannya tidak menggunakan bahan baku berupa daging sapi atau kerbau, melainkan daging domba. Demikian juga dengan cara pengolahannya, Mang Udeng tidak langsung membakarnya, namun direndam dulu dengan aneka bumbu yang berbeda dengan sate pada umumnya.

Hasil olahan itu kemudian diberi nama Maranggi, yang artinya "daging domba yang telah dibumbui". Racikannya juga disebut sebagai "sari dari sebuah sate" karena berhasil memaksimalkan citarasa dari sate domba.

Sedangkan klaim bahwa sate maranggi berasal dari Wanayasa dikatakan oleh Mimin, cucu langsung dari Mak Uneh, seorang penjual sate yang awalnya disebut sebagai "Sate Panggang", yang kemudian di kenal sebagai sate Maranggi sejak tahun 1970.

Dengan begitu banyak klaim tentang asal usul kuliner tradisional ini, apa arti sebenarnya dari istilah "maranggi"?.

Pada kenyataannya, tak ada satu orangpun yang bisa menjelaskan dengan dasar yang kuat. Namun menurut kamus bahasa Sunda, Maranggi artinya daging sapi yang dipotong-potong dan ditusuk seperti sate kemudian di rebus. Jika berdasarkan kamus, kata tersebut lebih merujuk kepada sate maranggi khas Cianjur, yang dagingnya memang direbus terlebih dahulu dengan taburan ketumbar yang sangat banyak mirip empal.

Sedangkan Sate Maranggi Khas Purwakarta, dagingnya tidak dimasak melainkan  hanya dibalur dengan bumbu secara merata, baru kemudian ditusuk dan didiamkan beberapa saat.  Tapi terlepas dari keruwetan sejarahnya dan darimanapun asalnya, cita rasa manis dan gurih Sate Maranggi tetap memikat selera.

Silahkan mencoba, pasti suka!

Info tambahan

  • Alamat: Jl. Achmad Adnawijaya (Pandu Raya) No.58-62, Tegal Gundil, Bogor Utara
  • Jam Buka: 09.00 - 17.00
  • Nomer Telepon: 082299818881

Item terkait

Tokoh Dan Kuliner

Penawaran

Serba Serbi Kuliner

FoodMania

  • Peuyeum, Fermented Delicacies for West Java Peuyeum, Fermented Delicacies for West Java
    Peuyeum, Fermented Cassava from West Java - Indonesia has several delicious fermented foods, one of which is peuyeum. It is fermented cassava usually eaten as snacks. Although it is a traditional West Javanese snack, similar food also is known in other parts of Java but it is called Tape.
    Read more...

Pojok Dapur

Tips dan Trik Mengolah Daging Sapi yang Sering Diabaikan Orang

 

Tips dan Trik Mengolah Daging Sapi yang Sering Diabaikan Orang

Daging sapi merupakan salah satu daging yang sering dikonsumsi oleh orang Indonesia selain daging ayam. Sayangnya, banyak orang ternyata mengabaikan beberapa tips dan trik mengolah daging sapi yang benar, padahal hal ini dapat berpengaruh terhadap citarasa daging ketika dimasak nantinya.

Oleh karena itu, sangat disarankan agar anda tahu pasti perlakukan seperti apa yang sebaiknya diberikan pada daging sapi agar memiliki kualitas yang baik. Lalu, apa saja sih cara pengolahan daging sapi yang sering diabaikan orang?

Baca selengkapnya...

Cari Kuliner Kesukaanmu Disini